SELAMAT BERGABUNG DI SITUS INTELEKTUAL MUDA PADANG LAWAS UTARA

Situs orang- orang intelektual muda Kabupaten Padang Lawas Utara khususnya dan Intelektual Muda Indonesia pada umumnya yang ingin menuangkan hasil pemikirannya untuk kemajuan daerah Padang Lawas Utara Khususnya dan Kemajuan Bangsa Indonesia ke depannya. Tuangkan pemikiran anda di blog ini. Mari mengawasi dan mengkritik jalannya pemerintahan dan pembangunan didaerah Padang Lawas Utara khususnya dan di Negara Indonesia pada umumnya dari segala sudut pembaharuan. Sehingga Daerah Padang Lawas Utara menjadi Daerah yang maju dan makmur serta menjadi daerah percontohan di Indonesia dan Negara Indonesia menjadi negara yang maju dan kuat perekonomiannya di tengah- tengah peradaban dunia.

Potret Desa Padangbolak

Potret Desa Padangbolak
Sopo Godang Desa Nagasaribu

Rabu, 25 Februari 2009

TRAGEDI AMBON BAG 2

MARI MEMAHAMI AYAT- AYAT ALLAH

sewaktu sy berwira wiri di google tak sengaja sy menemukan situs penghina islam sungguh dgn ini setiap muslim pasti akan marah karena seakan situs ini menjadi situs yahudi yg membenci islam bg sy situs itu tak lebih dr situs orang yg tak memahami alquran nur karim semoga allah melaknat mereka yg menghina allah dan rasulnya

Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Rabbmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nahl, 27:93)

Masyarakat zaman sekarang memperlakukan Al-Qur’an sama sekali berbeda dengan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya Al-Qur’an. Secara umum, di dunia Islam sedikit sekali orang yang mengetahui isi Al-Qur’an.

Sebagian di antara mereka seringkali menggantukan Al-Qur’an yang dibungkus dengan sampul yang bagus pada dinding rumah mereka dan orang-orang tua sesekali membacanya. Mereka beranggapan bahwa Al-Qur’an melindungi orang yang membacanya dari “kemalangan dan kesengsaraan”. Dengan kepercayaan ini mereka memperlakukan Al-Qur’an seperti halnya jimat penangkal sial.

Namun ayat-ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan diwahyukannya Al-Qur’an sama sekali berbeda dengan apa yang tersebut di atas. Sebagai contoh, dalam surat Ibrahim ayat 52 Allah menyatakan: “(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. Di banyak ayat yang lain Allah menegaskan bahwa salah satu tujuan paling utama diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk mengajak manusia berpikir dan merenung.

Dalam Al-Qur’an Allah mengajak manusia untuk tidak mengikuti secara buta kepada kepercayaan dan norma-norma yang diajarkan masyarakat. Akan tetapi memikirkannya dengan terlebih dahulu menghilangkan segala prasangka, hal-hal yang tabu dan yang mengikat pikiran mereka.

Manusia harus memikirkan bagaimana ia menjadi ada, apa tujuan hidupnya, mengapa ia suatu saat akan mati dan apa yang terjadi setelah kematian. Ia hendaknya mempertanyakan bagaimana dirinya dan seluruh alam semesta menjadi ada dan bagaimana keduanya tersu-menerus ada. Ketika melakukan hal ini, ia harus membebaskan dirinya dari segala ikatan dan prasangka.

Dengan berpikir menggunakan akal dan nurani yang terbebaskan dari segala ikatan sosial, ideologis dan psikologis; seseorang pada akhirnya akan merasakan bahwa seluruh alam semesta termasuk dirinya telah diciptakan oleh sebuah kekuatan Yang Maha Tinggi. Bahkan ketika ia mengamati tubuhnya sendiri atau segala sesuatu di alam ia akan melihat adanya keserasian, perencanaan dan kebijaksanaan dalam perancangannya.

Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada manusia dalam masalah ini. Dalam Al-Qur’an Allah memberitahu kepada kita apa yang hendaknya kita renungkan dan amati. Dengan cara perenungan yang diajarkan dalam Al-Qur’an, seseorang yang memiliki keimanan kepada Allah akan merasakan secara lebih baik kesempurnaan, hikmah abadi, ilmu dan kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Ketika orang yang beriman mulai berpikir menurut cara yang diajarkan Al-Qur’an, ia segera menyadari bahwa keseluruhan alam semesta adalah sebuah isyarat karya seni dan kekuasaan Allah, dan bahwa “alam semesta adalah sebuah hasil kreasi seni, dan bukan pencipta kreasi seni itu sendiri.” Setiap karya seni memperlihatkan keahlian yang khas dan unik serta menunjukkan pesan-pesan dari sang pembuatnya.

Dalam Al-Qur’an, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda-benda alam yang dengan jelas menunjukkan kepada keberadaan dan ke-Esaan Allah beserta Sifat-sifat-Nya. Di dalam Al-Qur’an segala sesuatu yang menunjukkan kepada suatu kesaksian (adanya sesuatu yang lain) disebut sebagai “ayat-ayat”, yang berarti “bukti yang telah teruji (kebenarannya), pengetahuan mutlak dan pernyataan kebenaran.” Jadi ayat-ayat Allah terdiri atas segala sesuatu di alam semesta yang memperlihatkan dan mengkomunikasikan keberadaan dan sifat-sifat Allah. Mereka yang dapat mengamati dan senantiasa ingat akan hal ini akan memahami bahwa seluruh jagad raya hanya tersusun atas ayat-ayat Allah.

Sungguh, adalah kewajiban bagi manusia untuk dapat melihat ayat-ayat Allah…Dengan demikian orang tersebut akan mengenal Sang Pencipta yang menciptakannya dan segala sesuatu yang lain, menjadi lebih dekat kepada-Nya, menemukan arti keberadaan dan kehidupannya, dan menjadi orang yang beruntung (dunia dan akhirat).

Buku ini tidak akan pernah mampu memuat keseluruhan ayat-ayat Allah yang tak terhitung jumlahnya, tidak juga buku karya yang lain. Segala sesuatu, nafas manusia, perkembangan politik dan sosial, keserasian kosmik di alam semesta, atom yang merupakan materi terkecil, semuanya adalah ayat-ayat Allah, dan semuanya berjalan di bawah kendali dan pengetahuan-Nya, mentaati hukum-hukum-Nya. Menemukan dan mengenal ayat-ayat Allah memerlukan kerja keras individu. Setiap orang akan menemukan dan memahami ayat-ayat Allah sesuai dengan tingkat pemahaman dan nalarnya masing-masing.

Tidak diragukan, sejumlah petunjuk mungkin akan membantu. Pertama-tama, seseorang dapat mempelajari subyek-subyek tertentu yang ditekankan dalam Al-Qur’an dalam rangka memperoleh mentalitas berpikir yang memungkinkannya untuk dapat merasakan seluruh alam semesta sebagai penjelmaan dari segala sesuatu ciptaan Allah.

Buku ini ditulis untuk mengetengahkan beberapa masalah yang kita diperintahkan agar merenungkannya dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat Allah di alam semesta ditegaskan dalam surat An-Nahl ayat 10-17:

10) Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.
11) Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.
12) Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),
13) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
14) Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
15) Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,
16) dan Dia ciptakan) tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.
17) Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Di dalam Al-Qur’an, Allah mengajak orang-orang yang berakal agar memikirkan hal-hal yang biasa diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan sebagai hasil “evolusi”, “kebetulan”, atau “keajaiban alam” belaka.

190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Aali ‘Imraan, 3:191)

Sebagaimana kita lihat dalam ayat tersebut, orang-orang yang berakal melihat ayat-ayat Allah dan berusaha untuk memahami ilmu, kekuasaan dan kreasi seni-Nya yang tak terhingga dengan mengingat dan merenungkan hal-hal tersebut, sebab ilmu Allah tak terbatas, dan ciptaan-Nya sempurna tanpa cacat.

Bagi orang yang berakal, segala sesuatu di sekeliling mereka adalah tanda-tanda penciptaan oleh Allah…


posted from : www.harunyahya.com

Kategori: menghapus jejak

Al Qur’an di mata Syi’ah [1]

Nopember 24, 2007 · 1 Komentar

Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur’an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya. Jika kita menelaah literatur-literatur syiah, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan para ulama syiah yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut syiah sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAAW.

Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar syiah menganggap demikian? Mungkin anda pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang syiah, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh syiah, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah

Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur syiah untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab syiah yang menyatakan demikian atau tidak ada. Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang syiah adalah salah alamat? Ada beberapa sebab; bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab syiah. Di antaranya:

Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.

Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan ulama syiah mengenai ingkarnya mereka pada Al Qur’an hari ini, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi:
Setiap syiah harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa AL Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan syiah.

Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap syiah harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi syiah jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang syiah terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi syiah. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut syiah.

Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi syiah.

Saya mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan saya di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan memang saya akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas. Saya katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah saya pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu. anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab syiah. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab syiah imamiyah, dan kami –team hakekat- berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.

Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap diubahnya Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab syiah imamiyah. Ulama syiah klasik benar-benar menyadari hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab syiah –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama syiah klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak hal itu sama dengan menolak mazhab syiah. Mari kita simak nukilan dari ulama klasik syiah.

Pertama-tama, mari kita sadari bahwa riwayat dalam kitab literatur syiah yang menggugat keotentikan Al Qur’an hari ini mutawatir dan sangat banyak, sekali lagi, menurut ulama syiah sendiri. Sebuah kenyataan yang membuat setiap muslim bersedih.

1.Al Mufid –Muhammad bin Nu’man- mengatakan:
Banyak sekali hadits-hadits dari para imam yang membawa petunjuk – a’immatil huda- dari keluarga Nabi Muhammad SAAW bahwa Al Qur’an yang ada bukan lagi asli, juga memuat berita tentang orang-orang zhalim yang menambah dan mengurangi isi Al Qur’an. Lihat Awa’ilul Maqalat hal 91.

2.Abul Hasan Al Amili mengatakan:
Ketahuilah, kebenaran yang disimpulkan dari riwayat mutawatir yang akan dipaparkan kemudian, dan riwayat lain yang tidak kami jelaskan di sini, bahwa Al Qur’an yang ada di tangan kita saat itu, telah mengalami perubahan sepeninggal Rasulullah SAAW. Para penulis Al Qur’an sepeninggal Nabi SAAW telah menghapus banyak ayat dan kata dari ayat Al Qur’an.
Muqaddimah kedua dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar hal 36, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.

Nyata-nyata menuduh para sahabat telah menghapus banyak ayat Al Qur’an. Nampak sekali bahwa yang tertuduh dalam hal ini adalah Usman bin Affan, yang dikenal sebagai pemrakarsa penulisan Al Qur’an, dan penyatuan bacaan Al Qur’an bagi seluruh kaum muslimin. Ini adalah kesimpulan ulama dari riwayat-riwayat yang dianggapnya mutawatir, jadi tidak lagi mengenal adanya “shahih” atau “dhaif”, karena sebuah kesimpulan hanya mewakili person penyimpulnya. Dengan pernyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan juga, bahwa Abu Hasan Al Amili tidak beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini. Dia telah kehilangan salah satu rukun iman. [Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un]

3.Ni’matullah Al Jaza’iri
Figur yang satu ini lebih memilih untuk percaya riwayat-riwayat mutawatir menurut versinya daripada Kalam Ilahi yang terhimpun dalam Al Qur’an. Katanya:
Dengan menganggap Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah mutawatir dari wahyu ilahi, [artinya diriwayatkan secara mutawatir berasal dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah], dan meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah Al Qur’an yang diturunkan oleh Ruhul Amin [Malaikat Jibril] mengandung konsekwensi penolakan terhadap riwayat yang banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir, yang menyatakan bahwa Al Qur’an telah dirubah, isinya, kalimatnya dan I’rabnya. Padahal ulama mazhab kami telah sepakat bahwa riwayat itu valid adanya dan mereka yakin pada isi riwayat itu. Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 357.

Kita lihat seluruh ulama syiah sepakat menerima riwayat yang menggugat Al Qur’an, yang menuduh Al Qur’an kaum muslimin saat ini telah dirubah, dan bukan asli lagi. Ini bukan lagi tuduhan, tetapi pernyataan dari ulama syiah sendiri.
keyakinan di atas mengandung sekian banyak konsekwensi, di antaranya, menganggap kaum muslimin yang berpegang pada Al Qur’an yang ada saat ini adalah sesat, karena berpedoman pada kitab suci yang sudah dirubah oleh “tangan-tangan kotor”.

4. Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani
riwayat tak terhitung banyaknya, yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah dirubah, sungguh banyak, melebihi derajat mutawatir. Masyariq Asy Syumus Ad Durriyah, hal 126.

5.Sulthan Muhammad Al Khurasani
Mengatakan dalam kitabnya, Tafsir Bayanus Sa’adah fi Maqamatil Ibadah, cet. Muassasah Al A’lami hal 19

6.Begitu juga Husein Nuri Thabrasi, yang getol menyatakan Al Qur’an telah dirubah, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab yang diberi judul Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbabi [pemutus ucapan, pembuktian bahwa kitab Allah telah dirubah]. Kita simak ucapannya dalam kitab di atas hal. 227 :
Hadits yang memuat hal itu [perubahan Al Qur’an] berjumlah lebih dari 2000 hadits, sejumlah ulama besar menyatakan banyaknya riwayat yang menyatakan hal itu, seperti Al Mufid, Al Muhaqqiq Ad Damad, Majlisi dan lainnya.

7. Muhammad Baqir Al Majlisi
ketika membahas hadits riwayat Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah Alaihissalam; Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan oleh Jibril Alihissalam kepada Muhammad SAAW ada 17000 ayat. Majlisi mengomentari riwayat ini: [riwayat ini] dipercaya, dalam cetakan lain tertulis Hisyam bin Salim di posisi Harun bin Salim. Riwayat ini shahih, seperti sudah diketahui bahwa riwayat ini juga banyak riwayat shahih yang menerangkan dengan jelas bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah dikurangi dan diubah, bagi saya hadits-hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Menolak riwayat ini mengharuskan kita untuk menolak seluruh riwayat [hadits Ahlulbait]. Saya kira hadits yang mengatakan hal ini[perubahan Al Qur’an] tidak kalah banyak dari riwayat hadits yang membahas imamah, bagaimana masalah imamah bisa dibuktikan dengan riwayat? Mir’atul Uqul, jilid 12 hal 525.

Maksudnya, bagaimana masalah imamah bisa didasarkan dari dalil riwayat ahlulbait jika riwayat mengenai perubahan Al Qur’an ditolak? Karena kitab-kitab yang memuat riwayat dari para imam Ahlulbait, yang dijadikan rujukan bagi mazhab imamiyah [tentang imamah dan nash] juga memuat riwayat tentang perubahan AL Qur’an. Maka Syiah tidak dapat mengingkari riwayat tentang perubahan Al Qur’an, karena mengingkari riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak riwayat tentang imamah dan penunjukan para imam, menolak riwayat mengenai imamah berarti menggugurkan mazhab syiah, karena mazhab syiah imamiyah hanya bersandar pada riwayat-riwayat dari ahlulbait mengenai imamah. Berarti konsekwensi dari mengimani prinsip imamah dalam syiah adalah percaya terhadap perubahan Al Qur’an. Ini berarti seluruh umat syiah wajib meyakini perubahan dan pengurangan Al Qur’an, jika masih ingin meyakini imamah.

Perhatikan lagi pernyataan Majlisi, yang menjelaskan bahwa menolak riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak seluruh hadits dan riwayat syiah.
[Bersambung]

posted from : arrahmah

Kategori: syiah

injil yang terbuang why?

Nopember 21, 2007 · Tidak ada Komentar

injil bukan hanya 1 kitab saja tapi banyak karena bnyak pengarang injil baik dr murid yesus sendiri atau bukan pertanyaan nya kenapa injil itu dibuang atau tak layak karena injil itu menyatakan kebenaran dan tdk mengikuti kemauan sang gereja yg sudah terjangkit aliran paganisme sejarah mencatat pd waktu itu agama kristen ditindas oleh kerajaaan romawi cara untuk menghentikannya hanya dgn mengkristenkan kerajaan romawi tp harus kehilangan sesuatu yg berharga yaitu ajaran murni yesus dan snag pauspun mulai merombak isi alkitab yg tak sejalan yah dibuanginilah kitab yg dibuang dr perjanjian baru

diantaranya:

  1. injil petrus
  2. injil thomas
  3. injil nikodemus
  4. injil ebionite
  5. injil barnabas
  6. kisah rasul petrus
  7. surat klemen
  8. surat barnabas
  9. gembala hermes
  10. wasiat 12 imam
  11. ajaran 12 rasul
  12. wahyu petrus
  13. wahyu bortolomi dan lain lain

padahal dlm kitab wahyu berkta begini

“jika seorang menambahkan sesuatau dlm perkataaan ini ,maka allah akan menambahkan malapetaka-malapetaka dlm kitab ini .jikalau seseorang menabahkan sesuatu perkataan perkataan dr kitab nubuat ini ,maka allah akanmengambil bagiannya dr pohon kehidupan dan dr kota kudus”{wahyu22:18}

mungkin kita akan bertanya atas alasan apa mereka membuang,menambahkan ,mengurang,serta membuat buat kitab seperti kitab perjanjian lama mlik protestan ada 39 sedangkan khatolik ada 46 ini baru bagian kecil yg sy sebutkan insyaallah akan sy sebutkan dilain kesempatan

nah kita kembali ke prtanyaan kenapa gereja membuang kitab tsb ? karena isinya yg tdk sesuai dgn doktrin gereja yg begitu kental dgn aliran paganisme.

images3.jpg

Kategori: kristologi

Mujahidin Taliban Waziristan, Mengusai Lembah Swat dan Kota Alpurai dgn seizin allah

Nopember 20, 2007 · 1 Komentar

Pakstan (armnews) - Mullah Fazlullah, seorang ulama’ Pakistan bersama para pengikutnya telah mendapatkan kemenangan demi kemenangan dalam beberapa pertempuran akhir-akhir ini melawan rezim sekuler Musharaf. Bahkan Musharaf harus memberlakukan kondisi darurat yang tidak diketahui kapan bisa berakhir. Mujahidin telah mengontrol berbagai wilayah seperti propinsi Waziristan, Lembah Swat dan kota Alpurai.

Tentara Mullah Fazlullah
Tentara Mullah Fazlullah

Lembah Swat adalah lembah yang subur dan indah di Pakistan. Meyusul masuknya mujahidin ke lembah swat, penduduk di sana menyambut dengan bangga dan bahkan rela mengorbankan harta mereka untuk perjuangan para mujahidin.

Rakyat Swat menyumbangkan hartanya untuk Mujahidin
Rakyat Swat menyumbangkan hartanya untuk Mujahidin

Sedangkan Wilayah Waziristan merupakan wilayah yang telah lama menjadi basis militer Mullah Fazlullah. Setelah tragedi Masjid lal di Islamabad dan deklarasi Jihad oleh Syaikh Usama, Mullah Fazlullah semakin mendapat kekuatan baik dari rakyat Pakistan maupun orang-orang Islam di Arab, Mesir dan Tajikistan.

Tentara Mullah Fazullah bersiap siaga
Tentara Mullah Fazullah bersiap siaga

Berita terakir yang dirilis oleh kavkazcenter(14/11) memberitakan bahwa Mujahidin telah berhasil menguasai kota Alpurai. Kota Alpurai merupakan sebuah kota yang jaraknya dengan Ibukota Islamabad hanya 160 KM.

Uniknya Mullah Fazlullah selalu memberlakukan syari’ah Islam di setiap tanah yang berhasil dikuasai. Allahu Akbar, Wal Izzatu Lillah (infojihad/armnews)

masya allah ya rabbi berikanlah kemenangan bg mujahid yg menegakkan syariat islam di atas bumimu ini bukankah engkau ya rabbi yg memberikan janji kemenangan bagi kaum muslimin ya rabbi sungguh berapa banyak tentara yg kecil mengalahkan tentara yg banyak dgn sizinmu berikanlah kemenagan ya rabbi pd tentaramu sungguh engkaulah rabb yg maha dari segala maha

Kategori: CP {copy paste}

biarkan syiah bercerita tentang agamanya?

Nopember 18, 2007 · Tidak ada Komentar

dalam aqidah syiah ahlul bait Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas.

tapi Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istriistri
nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait
karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

meriwayatkan dalam halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka mendengar AbuAbdillah ‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apayang ada di langit dan di bumi, aku mengetahui apa-apayang ada di dalam surya dan aku mengetahui apa yangtelah lalu serta yang akan datang.”Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanyapara imam mengetahui kapan mereka akan mati danmereka tidak akan mati kecuali dengan kemauan merekasendiri.”Di antara bukti-bukti sikap ekstrem orang-orang Syi’ah,klaim mereka para imam memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta ini semau mereka; mereka bisa menghidupkan orang yang telah mati, juga menyembuhkan orang yang buta, orang yang terkena kusta, kemudian dunia akhirat milik para imam, mereka berikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendak mereka.

Al-Kulainy di jilid I, hal 470 meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Bashir bahwa ia bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam, “Apakah kalian pewaris nabi shallallahu alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Benar!” Lantas aku bertanya lagi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pewaris para nabi mengetahui apa yang mereka ketahui?” “Benar!”, jawabnya. Aku kembali bertanya, “Mampukah kalian menghidupkan orang yang sudah mati dan menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit kusta?” “Ya, dengan izin Allah”, sahutnya.” Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya. Berkata al-Kasany dalam kitabnya ‘Ilm al-Yaqin fi Ma’rifati Ushul ad-Din jilid II, hal 597, “Semua makhluk diciptakan untuk mereka (para imam), dari mereka, karena mereka, dengan mereka dan akan kembali kepada mereka. Karena - tanpa diragukan lagi- Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia dan akhirat hanya untuk mereka. Dunia dan akhirat untuk mereka dan milik mereka. Para manusia adalah budak-budak mereka!” Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”

Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.” Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 dengan ‘gagahnya’ berdusta dengan perkataannya, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan (timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga), dan al-mauqif(tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan selamat

astagfirullah alzim sungguh masih banyak lagi yg lainnya sr kitab kitab syiah dan ini bukan dr sy pribadi atau orang yg benci tp dr mulut imam atau ulama mereka sendiri

biarkanlah allah yg menilai di akhirat nanti sungguyh buka lah mata kalian wahai pengaku pencinta ahlul bait karena kebenaran itu milik allah dan rasul

posted from : /abusalma.wordpress.com

Kategori: menghapus jejak

doktrin penebusan dosa :doktrin penghianat ajaran yesus

Nopember 18, 2007 · & Komentar

logo.gif

sungguh meskipun banyak sejarawan dan pakar ahli kitab telah mengemukakan bukti tenang mitos penyaliban yesus , namun masih banyak orang kristen yg mempercayai bahwa yesus mati ditiang salib .makalum lah karena harapan terbesar mereka ada disitu? kenapa

karena harapan terbesar mereka untuk masuk surga adalah mitos penyaliban itu padahal allah telah berfirman :. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. {al maidah :73}

dan dalam injil dikatakan “akulah yang terdahulu akulah yg terkemudian tidak allah selain daripadaku “{yesaya44:6}

“hendaklah engau enyembah allah tuhanmu hendaklah engkau beribadah hanya kepada dia saja “{matius4:10}

mereka mengatakan bahwa penyaliban yesus di tiang salib adalah penebus dosa atas dosa waris yg telah diturunkan oleh adam dan hawa kepada anak cucunya

sungguh kasihan ,jika seorang bayi yg belum tau baik buruk nya harus menaggung dosa yg belum pernah diperbuatnya cukuplah orang oarng yg berakal mengambil pelajaran . konsep penebusan dosa ini sebetulmya bertentangan dgn alkitab sendiri. baik perjanjian lama dan perjanjian baru

“janganlah ayah dihukum mati karena anaknya ,janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya .setiap orangharus dihukum mati karena dosanya sendiri”{ulangan 14:16}

“setiap orang akan dihukum mati karena kesalahannya.setiap manusian yg makan buah mentah giginya sendiri yg akan ngilu”{yeremia3:30}

” kamu akan dihakimi dan ukuran yg kamu pakai untuk mengatur ,akan diukurkan kepadamu”{matius7:2}

“biarlah anak anak itu janganlah menghalangi mereka untuk datang kepadaku ;sebab orang orang seperti itulah yg mempunyai kerajaan surga”{matius19:14}

berdasarkan ayat ayat diatas adam dan hawa tdk akan mewariskan dosa mereka kepada keturunannnya ,melainkan harus ditanggung masing masing ,yg dalam versi islam tlh diampuni allah setiap anak yg baru lahir

kalau kita kembali bertanya aneh yah malah islam yg mengikuti alkitab dan yg lebih aneh lagijiak sesuatu yg diyakini sebagai ajaran agama ternyata bertentangan dengan kitab sucinya sendiri

wahai ahli kitab bertaubatlah !! dan masuklah dien islam ini yg dibawa oleh rasul yg mulia penutup para rasul muhamad sebelum kalian menyesal dan masuk ke neraka !!!!!!

Kategori: kristologi

UMMAT ISLAM AMBON DIBANTAI OLEH MARINIR

Nopember 18, 2007 · & Komentar

images2.jpg

Ambon, 10 SEPTEMBER 1999

Tragedi yang menimpa ummat Islam Ambon rupanya belum berakhir. Saat aparat
keamanan dipertanyakan kridibilitas dalam menjaga keamanan, mereka kembali
melakukan tindakan mencoreng wajah aparat negeri ini. Hari ini, jam 15.50
WIT, aparat marinir dengan brutalnya melakukan pembantaian dan penembakan
kepada ummat islam yang sementara berada di perempatan jalan (ujung jalan AY
Patty) depan kantor Pol Sek Sirimau - yang juga berhadapan dengan bekas
pertokoan Pelita yang telah habis terbakar. Puluhan umat Islam yang berada
di perempatan ujung jalan Ay Patty - Depan kantor Polsek Sirimau (Pos Kota),
menjadi korban kebiadaban aparat marinir ini. Bukan hanya itu pembantaian
oleh marinir ini juga dilakukan di depan Masjid Al Fatah. Bahkan seorang
Bapak tertembak di depan masjid Jami' yang berdampingan dengan masjid Al
Fatah Ambon.

TRAGEDI POS KOTA

Kejadian di Pos Kota tidak lepas dari gangguan dan penyerangan awal yang
dilakukan oleh kelompok kristen ekstrim. Pada jam 12.00 WIT saat umat Islam
Ambon akan melaksanakan sholat jumat, sekelompok umat kristen Air Mata Cina
mengganggu dan melempar beberapa warga muslim yang akan menuju ke Ponegoro,
tempat tinggal mereka. Warga muslim Ponegoro ini kemudian berlari menuju ke
arah Soabali. Akibatnya warga muslim yang berada di Soabali marah terhadap
perlakuan warga kristen ini. Dalam beberapa saat saja, sudah terkumpul
puluhan massa muslim di Soabali. Saat itu, beberapa warga muslim yang
dipimpin oleh Hi. Amir Tuasamu sedang bernegosiasi dengan komandan batalyon
marinir Letkol Ivan. Belum selesai negosiasi, aparat dari korps marinir yang
melihat massa muslim kemudian melakukan tembakan ke atas. Akibatnya warga
muslim lari dari kerumunan massa.

Imbas dari gangguan massa kristen di Soabali ini, selepas sholat jumat, pada
pukul 14.450 WIT, pasukan jihad di lepas dari masjid Jamie Ambon. Jumlah
pasukan jihad ini lebih dari 150 orang. Sebagian besar perpakaian putih,
berikat kepala putih dikombinasi warna hijau. Usia mereka rata-rata masih
sangat mudah. Bahkan ada beberapa diantaranya adalah anak-anak berusia 10
tahunan. Pasukan ini dibagi dalam beberapa kelompok. Rencananya, massa
muslim ini akan dikerahkan ke perbatasan antara muslim dan Kristen untuk
mempertahankan diri dan menjaga kemungkinan penyerangan dari pihak Kristen.

Massa muslim ini kemudian berkumpul di perempatan jalan (Ujung Jl AY Patty,
depan

Polsek Sirimau, samping kantor Kejaksaan Negeri Ambon).

Aparat keamanan dari korps marinir, memblokir jalan depan kantor Kejaksaan
negeri Ambon. Jumlah aparat ini lebih dari tiga puluh orang. Suhfi Majid,
sekretaris Pos Keadilan Peduli Ummat Ambon yang berada di tempat kejadian
menjelaskan bahwa saat massa muslim berkumpul, salah seorang pimpinan massa
muslim ini kemudian memimpin massa muslim ini dengan berzikir, bersholawat
dan bertakbir. Puluhan orang yang berada di tengah massa tersebut kemudian
duduk dan mengumandangkan zikir dan takbir. Pada jam 15.30 WIT, lanjut Rusli
Lausepa -salah seorang saksi mata-, salah seorang komandan dari korps
marinir ini kemudian meminta kepada massa muslim ini untuk mundur dan
menjaga keamanan. Saat negosiasi dan sebagian warga muslim mundur, tiba-tiba
ada tembakan dari korps marinir. Massa muslim tersebut tidak melakukan
penyerangan. Saat tembakan pertama, massa muslim ini mundur dan lari. Saat
itulah gas air mata langsung dibuang oleh aparat diiringi dengan tembakan
yang langsung ditujukan ke arah warga muslim. Tembakan aparat itu diarahkan
tepat ke warga muslim yang sementara lari. Puluhan korban berjatuhan, dan
yang teridentifikasi 8 orang meninggal. 52 orang luka berat, jelas Rasyid
Kaisyupi, koresponden Sabili yang berada di lokasi kejadian dan turut
mengangkat korban penembakan. Semua korban dilarikan ke RS Al Fatah dalam
kondisi kritis. Dua orang yang meninggal, tertembak di kepala, otaknya
terburai, kepalanya pecah. Ada juga yang peluru menembus pahanya. Sementara
salah satu korban lainnya tertembak di bagian perut, ususnya terburai
keluar. Diantara korban yang meninggal ini ada anak remaja yang berumur 15
tahun. Puluhan korban ini kondisinya dalam kondisi kritis.

PEMBANTAIAN DI DEPAN AL FATAH.

Banyaknya korban yang berjatuhan di Depan Kantor Polsek Sirimau, menyebabkan
warga muslim yang berada di Masjid Al Fatah marah dan berkumpul di
perempatan jalan depan toko simpang. Aparat marinir kembali melakukan
timbakan brutal dengan menembak massa ini. Menurut Bapak Ridwan yang berada
dalam kerumunan massa, aparat marinir ini mengambil posisi menembak dengan
sasaran yang jelas ke arah massa ummat Islam yang sementara berkumpul. Saat
itu, salah seorang warga muslim hanya melakukan orasi menanggapi pembantaian
yang dilakukan oleh marinir di Pos Kota.

Massa muslim ini kemudian dihujani peluru. Empat orang anak muda menjadi
korban penembakan. Bahkan seorang bapak tertembak di teras Masjid Jamie (400
meter dari toko simpang). Sasaran peluru marinir ini bukan hanya ditujukan
ke massa muslim, tapi sasarannya juga ke Masjid Al Fatah. Pintu depan dan
tembok Masjid Raya Al Fatah Ambon berlubang kena tembakan aparat.

Pembantaian yang dilakukan oleh marinir ini adalah yang kedua kalinya
setelah pembantaian pada tanggal 25 Agustus lalu. Lagi-lagi korbannya adalah
umat Islam Ambon. Tragedi Pos Kota ini adalah yang paling memilukan. Sebuah
pembantain yang tidak mengenal kemanusiaan. Penembakan yang dilakukan oleh
marinir, saat massa Islam ini mundur dan dalam posisi yang tidak menyerang
sama sekali. Sebuah tindakan yang sangat arif apabila korp marinir yang
keberpihakannya jelas ini ditarik dari kota Ambon. Penempatan korps marinir
mereka di Ambon hanya menambah permasalahan bukan menyelesaikan masalah.
Bahkan timbul opini di kalangan masyarakat muslim dalam mempertanyakan
kenetralan Panglima Daerah Militer (Pangdam) Pattimura - Brigjen Max Tamaela
- dalam tragedi POS KOTA

Tim Investigasi
Pos Keadilan Peduli Ummat Ambon
DPD Partai Keadilan Ambon

Kategori: tanya kenapa?

{matius,markus,lukas,yohanes} bukanlah penulis injil?????

Nopember 17, 2007 · & Komentar

mungkin ketika kita membaca judul diatas heran kenapa? karena selama ini injil ini adalah injil sah milik kaum nasrani dan keempat nama ini jg diklam sebagai penulis injil murid yesus betulkah itu?

injil matius yg selama ini diklaim ditulis oleh matius ternyata bukan ditulis oleh matius sebagaimana dikatakan oleh k. riedel dalam bukunya tafsiran injil matius sebagai berikut:

“menurut pendapat kami, pengarang injil matius bukanlan seorang dari murid kedua belas rasul {murid yesus} melainkan seorang kristen berbangsa yahudi yg tidak kenal “

markus dan lukas juga bukanlah murid yesus karena dr ke 12 orang murid yesus yg disebutkan dalam matius 10:2-4 ,sama sekali tdk terdapat nama keduanya

“inilah nama kedua belas rasul itu :pertama simon disebut petrus , dan andreas saudaranya ,dan yakobus anak zabedeus ,dan yohanes saudaranya filipus ,dan bortulomeus ,tomas dan matius pemungut cukai ,yokubus anak alfeus dan tadeus ,simon orang zelot dan yudas izkareot yg menghianati dia “{ matius 10:2-4}

sedangkan injil yohanes jg bukan ditulis oleh yohanes bin zabdi ,murid yesus .hal ini dapat dibuktikan dgn tdk adanya kisah entang petrus ,yakub,dan yohanes bin zabdi ,yang diajak yesus ke sebuah bukit untuk bertemu elia dan musa .dalam injil yohanes kisah tersebut tdk disebutkan ,padahal itu adalah merupakan peristiwa sangat penting

dan lebih aneh lagi adalah dimasukkannya surat surat pauus sebagai bagian dr kitab suci ,padahal ajaran ajaran paulus banyak menyimpang dr ajaran yesus .

mari kita lihat ajaran yesus

  • mengakui hukum taurat {matius 5:17,10:25-28}
  • mewajibkan khitan [bersunat] {lukas2:21}
  • mengharamkan babi{yesaya 66:17,matius5:17-20}
  • menolak dosa waris{matius7:2 19:14}
  • nah sedangkan ajaran paulus

  • menolak hukum taurat {galatia 2,16,3:11,roma3:20dan 28}
  • meremehkan khitan {galatia 5:6,I korintus7:18-19}
  • menghalal kan babi {I kirontius 6:12,I timonius 4:5}
  • mengajarkan dosa waris{I korintus 15:21-26}
  • sungguh telah nyatalah kesesatan nya dan siapapun yg masih percaya telah dibutakanlah matanya wahai orang yg mempertuhankan manusia sadarlah bahwa hanya allah yg esa
    ahad…….ahad……….ahad

    Kategori: kristologi

    wahabi darimana kau berasal?

    Nopember 15, 2007 · Tidak ada Komentar

    banyak orang sekarang yg bertanya dr mana wahabi berasal ada yg menuduh sepertiorang kafir inggris untuk menjatuhlan islam ada yg berbaik sangka yg pasti Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam. [Lihat : Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh : Dârul Habîb : 2000; hal. 55]. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India. Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.* Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.
    W.W. Hunter dalam bukunya yang berjudul “The Indian Musalmans” mencatat bahwa selama pemberontakan orang India tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim ‘Wahhâbi’ yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya bahwa : “There is no fear to the British in India except from the Wahhabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihaad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.” [“Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahhâbi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat dengan atas nama jihâd untuk memusnahkan penindasan akibat dari ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”] Lihat: W.W. Hunter, “The Indian Musalmans”, cet.1 di London: Trűbner and Co., 1871; Calcuta: Comrade Publishers, 1945, 2nd edn.; New Delhi: Rupa & Co., 2002 Reprint

    ** Di Bengal selama masa ini, banyak kaum muslimin termasuk tua, muda dan para wanita, semuanya disebut dengan “Wahhâbi” dan dianggap sebagai “pemberontak” yang melawan Inggris kemudian digantung pada tahun 1863-1864. Mereka yang dipenjarakan di Pulau Andaman dan disiksa adalah para ulama dari komunitas Salafî-Ahlul Hadîts, seperti Syaikh Ja’far Tsanisârî, Syaikh Yahyâ ‘Alî (1828-1868), Syaikh Ahmad ‘Abdullâh (1808-1881), Syaikh Nadzîr Husain ad-Dihlawî dan masih banyak lagi lainnya. Untuk bacaan lebih lanjut, silakan lihat :

    *Mu’înud-dîn Ahmad Khân, A History if The Fara’idi Movement in Bengal (Karachi: Pakistan Historical Society, 1965).
    *Barbara Daly Metrcalf, Islamic Revival in British India: Deoband, 1860-1900 (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1982), hal. 26-77.
    *Qiyâmud-dîn Ahmad (Professor Sejarah di Universitas Patna), The Wahhabi Movement in India (Ner Delhi: Manohar, 1994, 2nd edition). Terutama pada bab tujuh “The British Campaigns Againts the Wahhabis on the North-Western Frontier” dan bab kedelapan “State Trials of Wahhabi Leaders, 183-65.”

    Muhammad Ja’far, Târikhul ‘Ajîb dan Târikhul ‘Ajîb – History of Port Blair (Nawalkshore Press, 1892, 2nd edition).
    Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî [Lihat: ibid, hal. 70]. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :

    “Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini. padahal para pengikut mereka cuma mengaku islam yg ingin menegakkan hukum allah dan rasul atau ahlusunnah atau sunni
    *Margoliouth sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”. [D.S. Margoliouth, Wahabiya, hal. 618, 108. Artikel karya Margoliouth yang berjudul ‘Wahhabis’ ini juga dapat ditemukan di dalam The First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936 (New York: E.J. Brill, 1987 Reprint) vol.8 , hal.1087 karya M.T. Houtsma, T.W. Arnold, R. Basset, R. Hartman, A.J. Wensinck, H.A.R. Gibb, W. Heffening dan E. Lêvi-Provençal (ed) dan The Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden and London: E.J. Brill and Luzac & Co., 1960), hal. 619 karya H.A.R Gibb, J.H. Kramers dan E. Lêvi-Provençal (ed). Artikel ini juga dicetak ulang dalam :
    o .Reading, UK: Ithaca Press, 1974
    o .Leiden: Brill, 1997
    o .Dan cetakan pertama, Leiden and London: E.J. Bril and Luzac & Co., dan New York: Cornel University Press, 1953.]
    *Thomas Patrick Hughes menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh… [Thomas Patrick Huges, Dictionary of Islam, hal. 59].
    *George Rentz mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’… [George Rentz dan AS.J. Arberry, The Wahhabis in Religion in The Middle East: Three Religion in Concord and Conflict, Vol.2 (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), hal. 270]. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.

    [Lihat: Nâshir ibn Ibrâhîm ibn ‘Abdullâh Tuwaim, Asy-Syaikh Muhammad ibn ‘Abd`ul Wahhâb: Hayâtuhu wa Da’watuhu fi`r Ru`yâ al-Istisyrâqiyya: Dirôsah Naqdîyyah (Riyadh: Kementerian Urusan Keislaman, Pusat Penelitian dan Studi Islam, 1423/2003) hal. 86-7. Buku ini juga dapat dilihat secara online di http://islamport.com/d/3/amm/1/100/2213.html] .
    Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :

    *Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.
    *Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.
    Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.

    Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.amin
    Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).

    Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.
    walaupun sekarang pr raja seperti raja abdullah dan ulama saudi semoga allah merahmati mereka dan mengampuni dosa mereka yg tlh mencoreng nm baik seykh muhammad bin abdul wahab tapi masih ada diantara mereka yg ikhlas untuk dien ini
    dan sungguh pd kenyataan nya bahwa yg mengusir pr penjajah tanah air ini adalah para wahabi yg orang kafir bilang semoga allah merahmati beliau dan siapa sj yg ikhlas berkorban untuk dien ini

    Kategori: tanya kenapa?

    HAKIKAT BURUK DEMOKRASI

    Nopember 13, 2007 · Tidak ada Komentar

    Keberhasilan Indonesia meraih “Medali Demokrasi” baru-baru ini menjadi berita utama di halaman muka sejumlah media cetak di Tanah Air. Harian Republika menulis, medali tersebut diberikan oleh IAPC (Asosiasi Internasional Konsultan Politik)—sebuah organisasi profesi yang memperjuangkan demokrasi di seluruh dunia—karena Indonesia merupakan negara pertama berpenduduk mayoritas Muslim yang dinilai melakukan proses demokrasi dengan sungguh-sungguh. Ketua Komite Konferensi Dunia IAPC ke-40, Pri Sulisto, di Nusa Dua, Bali (12/11), mengatakan, bukti bahwa Indonesia berhasil mengembangkan dan mempraktikkan demokrasi adalah suksesnya penyelenggaraan Pemilu 2004 yang mengantarkan SBY—dari parpol yang baru terbentuk—menjadi presiden. (Republika, 12/11/07).

    Sementara itu, Co Chairman Komite Konferensi IAPC, ke-40, Robert Murdoch, menambahkan, Selain sebagai penghargaan, dipilihnya Indonesia menjadi tempat pertemuan juga merupakan perwujudan perjuangan IAPC untuk mempromosikan demokrasi di seluruh dunia, ujar Robert. (web.bisnis.com, 13/11/07)

    Antara “Demokrasi Prosedural” dan Sistem Demokrasi

    Siapapun yang mengkaji demokrasi tentu tidak akan melupakan dua hal: “demokrasi prosedural” dan sistem demokrasi. “Demokrasi prosedural” di antaranya mewujud dalam partisipasi rakyat dalam Pemilu, transparansi dan akuntabilitas. Dalam konteks Pemilu, misalnya, sejak merdeka hingga hari ini, Indonesia sudah menyelenggarakan beberapa kali Pemilu. Yang terakhir adalah Pemilu 2004, yang dinilai paling demokratis dalam sejarah politik Indonesia dan relatif aman terkendali. Jadi, wajar belaka jika dari sisi ini, Indonesia dianggap sebagai salah satu negara paling demokratis.

    Namun, jangan lupa, penilaian itu hanya menyangkut Pemilu sebagai salah satu instrumen “demokrasi prosedural”. Apalagi IAPC sendiri adalah lembaga yang hanya menganalisis Pemilu di seluruh dunia. (http://innphotoes.com, 13/11/07). Ini berarti, keberhasilan demokrasi Indonesia hanya dinilai dari tertibnya Pemilu 2004 saja.

    Pemilu yang demokratis tentu tidak bisa dijadikan ukuran suksesnya sebuah negara, apalagi jika dikaitkan dengan persoalan kemakmuran warga negaranya, misalnya. Berdasarkan laporan penelitian Guru Besar Ilmu Politik University of California, Los Angeles (UCLA) Michael Ross, yang diberi judul, “Is Democracy Good for the Poor?” pemerintahan yang demokratis terbukti tidak mendorong perbaikan kesejahteraan kaum termiskin. Setidaknya itulah yang terjadi di 169 negara dalam kurun waktu 1970-2000. Di Indonesia sendiri, seiring dengan puja-puji atas Pemilu yang dianggap demokratis tersebut, laporan Bank Dunia justru menyebutkan bahwa sampai September tahun 2006 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin hingga mencapai 17,5 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 39 juta penduduk. Angka ini tidak jauh berbeda dengan temuan Biro Pusat Statistik (BPS) dari Februari 2005 sampai Maret 2006. Bahkan BPS menyatakan, pada Februari 2005, sekitar 30,29% penduduk hampir miskin menjadi jatuh miskin pada Maret 2006. Pada saat yang sama, 11,82% penduduk hampir tidak miskin pada Februari 2005, jatuh miskin pada Maret 2006 (Demografi, Oktober 2006).

    Karena itu, Pemilu demokratis jelas tidak bisa dijadikan ukuran kesuksesan sebuah negara. Lebih dari itu, terlalu dangkal jika demokrasi dipahami sebatas “demokrasi prosedural” semacam ini, apalagi hanya dipahami lewat Pemilu, seraya mengabaikan demokrasi sebagai sistem (baca: sistem demokrasi), yang justru telah memproduksi banyak keburukan.

    Hakikat Sistem Demokrasi

    Sistem demokrasi di negara manapun selalu mencerminkan paling tidak dua hal: (1) Kedaulatan rakyat; (2) Jaminan atas kebebasan umum.

    1. Kedaulatan rakyat.

    Demokrasi identik dengan jargon “dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat”. Secara teoretis memang demikian. Justru di sinilah pangkal persoalan demokrasi, khususnya jika dilihat dari sudut pandang ajaran Islam yang hanya mengakui “kedaulatan Hukum Syariah (Hukum Allah)”. Dalam demokrasi, rakyat (manusia) diberi kewenangan penuh untuk membuat hukum, termasuk membuat hukum yang bertentangan dengan aturan-aturan Allah (syariah). Inilah yang terjadi di negara-negara yang menerapkan demokrasi, termasuk Indonesia. Padahal dalam Islam, hanya Allah yang berhak menetapkan hukum (Lihat: QS an-An‘am [6]: 57), yakni dengan memberikan kewenangan kepada penguasa (khalifah) untuk mengadopsi hukum dari al-Quran dan as-Sunnah, dengan didasarkan pada ijtihad yang benar.

    Adapun secara praktis, kedaulatan rakyat sebetulnya hanyalah ‘lipstik’. Faktanya, di Indonesia sendiri, yang berdaulat bukanlah rakyat, tetapi para elit wakil rakyat, termasuk elit penguasa, yang bahkan sering dipengaruhi oleh kepentingan para pemilik modal atau negara-negara asing. Tidak aneh jika banyak UU atau keputusan yang merupakan produk lembaga wakil rakyat (DPR) maupun Presiden—yang juga langsung dipilih oleh rakyat—sering bertabrakan dengan kemauan rakyat. Betapa sering kebijakan Pemerintah yang diamini para wakil rakyat justru didemo oleh rakyat sendiri.

    2. Jaminan atas kebebasan umum.

    Pertama: kebebasan beragama. Intinya, seseorang berhak meyakini suatu agama/keyakinan yang dikehendakinya tanpa tekanan atau paksaan. Dia berhak pula meninggalkan agama dan keyakinannya, lalu berpindah pada agama atau keyakinan baru.

    Kedua: kebebasan berpendapat. Intinya, setiap individu berhak mengembangkan pendapat atau ide apapun dan bagaimanapun bentuknya tanpa tolok ukur halal-haram.

    Ketiga: kebebasan kepemilikan. Intinya, seseorang boleh memiliki harta (modal) sekaligus mengembangkannya dengan sarana dan cara apa pun. Di Indonesia, pihak asing bahkan diberikan kebebasan untuk menguasai sumberdaya alam milik rakyat, antara lain melalui UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal, dll.

    Keempat: kebebasan berperilaku. Intinya, setiap orang bebas untuk berekspresi, termasuk mengekspresikan kemaksiatan seperti: membuka aurat di tempat umum, berpacaran, berzina, menyebarluaskan pornografi, melakukan pornoaksi, melakukan praktik homoseksual dan lesbianisme, dll.

    Jelaslah, hakikat sistem demokrasi menjauhkan hukum Allah dan menanamkan liberalisasi.

    Dampak Buruk Sistem Demokrasi

    Dampak paling buruk dari penerapan sitem demokrasi tentu saja adalah tersingkirnya aturan-aturan Allah (syariah Islam) dari kehidupan masyarakat. Selama lebih dari setengah abad, negeri yang notabene berpenduduk mayoritas Muslim ini menerapkan sistem demokrasi. Selama itu pula syariah Islam selalu dicampakkan. Segala upaya untuk memformalkannya dalam negara selalu dihambat, baik pada masa Orde Lama, Orde Baru hingga Orde Reformasi saat ini.

    Dampak buruk lainnya antara lain sebagai berikut:

    Pertama, akibat kebebasan beragama: muncul banyak aliran sesat di Indonesia. Sejak 2001 hingga 2007, sedikitnya ada 250 aliran sesat yang berkembang di Indonesia. (Waspada.co.id, 1/11/07). Para penganut aliran-aliran tersebut seolah dibiarkan begitu saja oleh Pemerintah tanpa dikenai sanksi yang tegas.

    Kedua, akibat kebebasan berpendapat: muncul ide-ide liberal seperti pendapat yang mengatakan bahwa syariah Islam, misalnya, jika diterapkan, akan mengganggu stabilitas, mengancam kemajemukan, menimbulkan disintegrasi, dll. Mereka yang berpendapat demikian, yang jelas-jelas melecehkan Islam, juga dibiarkan tanpa pernah bisa diajukan ke pengadilan. Itulah yang terjadi, khususnya di Indonesia saat ini, sebagaimana sering disuarakan oleh kalangan liberal.

    Ketiga, akibat kebebasan kepemilikan: banyak sumberdaya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh individu, swasta atau pihak asing. Sejak tahun 60-an Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan UU Penanaman Modal Dalam Negeri (UU No. 6/1968). UU ini memberikan peluang kepada perusahaan swasta untuk menguasai 49 persen saham di sektor-sektor milik publik, termasuk BUMN. Tahun 90-an Pemerintah kemudian mengeluarkan PP No. 20/1994. Isinya antara lain ketentuan bahwa investor asing boleh menguasai modal di sektor-sektor milik publik, termasuk BUMN, hingga 95 persen. Kini, pada masa yang disebut dengan ‘Orde Reformasi’, privatisasi dan liberalisasi atas sektor-sektor milik publik semakin tak terkendali. Minyak dan gas, misalnya, yang seharusnya menjadi sumber utama pendapatan negara, 92%-nya sudah dikuasai oleh asing.

    Keempat, akibat kebebasan berperilaku: Tersebarluasnya pornografi dan pornoaksi. Laporan kantor berita Associated Press (AP) menyebutkan, Indonesia berada di urutan kedua setelah Rusia yang menjadi surga bagi pornografi. (Republika, 17/7/03). Sudah banyak bukti, pornografi-pornoaksi memicu perilaku seks bebas. Berdasarkan sebuah penelitian, sebagian remaja di 4 kota besar Indonesia pernah melakukan hubungan seks, bahkan hal itu mereka lakukan pertama kali di rumah! (Detik.com, 26/1/05).

    from : hizbutahrir

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar

    Isilah Komentar di atas

    Bagaimana pandangan anda dengan hadirnya blog ini?